Atlanta - Kopi adalah minuman populer yang menjadi konsumsi sehari-hari. Kopi mudah dijumpai di mana-mana, mulai dari warung pinggir jalan hingga hotel bintang lima. Barangkali tidak ada rumah yang di dalamnya tidak tersimpan kopi. Tapi apakah itu lantas membuat kita benar-benar mengenal kopi?

Belum tentu. Setelah menyaksikan film Aroma of Heaven besutan sutradara muda Budi Kurniawan, kita akan dibuat sadar bahwa ada begitu banyak hal tentang kopi yang belum tergali: tentang sejarahnya, tentang proses produksinya, tentang makna kulturalnya. Pada titik ini, kopi tidak lagi sekedar menjadi komoditas, melainkan sebuah kepingan budaya yang sarat makna namun belum banyak tergali.
"Film ini bicara tentang perjalanan kopi ditumbuhkembangkan di Indonesia lebih dari tiga ratus tahun yang lalu. Yang menjadikannya lebih menarik, selain bicara tentang sejarah kopi film ini juga menelisik aspek budayanya," kata Budi Kurniawan mengawali perbincangan dengan detikcom di sela-sela Specialty Coffee Association of America (SCAA) Expo 2016 di Georgia, Amerika Serikat, Jumat (15/4/2016) lalu.
Di acara itu Aroma of Heaven didapuk menjadi film resmi yang menyandingi status Indonesia sebagai negara potret. Pengunjungnya mencapai belasan ribu. Paviliun Indonesia yang megah menghidangkan 17 jenis kopi dari 5 pulau di Indonesia. Branding di acara itu diharapkan dapat membantu memperbesar keran ekspor produk Indonesia ke Amerika Serikat, tidak hanya kopi tapi juga produk-produk lainnya.
Namun jika komersialisasi menjadi bagian penting dari pameran, bukan melulu itu yang menjadi tujuan Budi Kurniawan. Dengan filmnya, Budi ingin menyuguhkan secangkir pengetahuan tentang kopi yang selama ini terbenam di bawah tumpukan iklan yang dikuasai oleh para pemain industri besar. Dia ingin menyajikan sebuah fim tentang kopi yang, dalam bahasanya, memiliki "sisi historis, sisi budaya, dan konten."
Dari sisi historis, film ini menelisik sejarah kopi dengan, antara lain, membicarakan tentang pipa penggelondongan kopi di daerah Pekalongan, Jawa Tengah, yang dibuat tahun 1800-an. Di zamannya, pipa itu menjadi penanda bagi kemajuan teknologi perkebunan.
"Bayangkan di zaman segitu pemerintah kolonial sudah membuat satu infrastruktur di mana mereka memetik kopi di ketinggian terus mereka gelontorkan lewat pipa untuk dikirim ke pelabuhan. Jadi ada dua fungsi sekaligus, yaitu sambil digelontorkan kopinya dicuci dengan air yang mengalir di papa," tutur Budi.
Dari sisi budaya, kopi berjalin dengan tradisi masyarakat setempat. Kopi menjadi sarana ekspresi budaya sekaligus merepresentasikan karakter masyarakat di mana kopi itu tumbuh dan berkembang. Di daerah tertentu, ada ritual-ritual yang menjadi bagian dari sisi kultural kopi.
"Di Flores, misalnya, orang memetik kopi sambil bernyanyi. Di Gayo, kopi menjadi sangat romantik karena dikawinkan. Minum kopi pun menjadi terasa begitu intim dengan diri kita, membuat kita melakukan kontemplasi. Mungkin dari situ kita bisa mendapatkan ide hal-hal baru yang distimulan oleh kopi yang kita minum," kata Budi.
Pada kopi kita temukan kelindan segitiga antara alam, manusia, dan budaya. Beragamnya budaya nusantara juga tercermin pada bervariasinya jenis dan cita rasa kopi yang tumbuh di Indonesia.
"Misalnya, kopi Sumatara itu kuat. Kita bisa melihat persamaannya pada karakter orang-orang Sumatera, misalnya Batak. Kemudian kopi Jawa sangat halus, seperti juga orang Jawa. Bali yang sangat eksotis kopinya pun sangat juicy," ujar Budi.
Selain itu, film ini juga mengandung konten: mengajak pemirsa untuk mengubah paradigma berpikir tentang kopi. Apresiasi terhadap kopi sejatinya adalah apresiasi terhadap lingkungan itu sendiri. Lingkungan yang menjadi tempat tumbuh berkembangnya kopi dan masyarakat di sekitarnya. Lingkungan yang menjadi penopang kehidupan umat manusia.
Dengan menelisik sisi kopi yang, dalam bahasanya, "tak terjamah oleh industri besar," Budi sebenarnya sedang mengedukasi kita semua tentang arti minum kopi yang sesungguhnya.
"Bagaimana kita mengubah paradigma berpikir kita, bagaimana konsumsi kita terhadap kopi yang kita minum. Kita memiliki respek terhadap apa yang kita konsumsi. Respek kepada orang-orang yang terlibat dalam kopi itu, dari kebun sampai cangkir," kata Budi.
Respek itu, lanjut Budi, perlu ditunjukkan baik oleh konsumen maupun produsen kopi.
"Dari sudut pandang pengusaha, Anda telah mengambil untung dari bisnis kopi, jadi apa yang Anda berikan kepada kopi? Dari sudut pandang konsumen, seberapa dekat kita dengan kopi yang kita konsumsi? Apakah kita semata-mata terjebak pada sifat konsumtif, ataukah kita membuka mata pada nilai-nilai apresiatif," kata Budi.
Sekaligus, dia juga ingin mengabarkan kepada dunia tentang seluk-beluk kopi Indonesia yang sarat ragam dan makna.
"Jadi mereka tahu bahwa Indonesia punya potensi. Mungkin Indonesia kalah dari Brazil mengenai produktivitas, tapi Indonesia punya ragam yang luar biasa. Di sanalah kekuatan kopi Indonesia. Dalam film Aroma of Heaven, ragam varietas itu direpresentasikan oleh budaya kita," tandas Budi.
Film berdurasi 65 menit itu telah diputar di berbagai negara: Amerika Serikat, Tiongkok, Iran, Korea. Film itu pun telah mendapatkan dua penghargaan internasional, yaitu sebagai film dengan Best Editing pada ajang Ahvaz Science Film Festival di Iran tahun 2014 dan sebagai Best Documentary pada Festival Film Hainan 2015 di Tiongkok.
Namun Budi tidak akan berhenti di sana. Usahanya untuk membungkus ragaman kopi Indonesia ke dalam film baru saja dimulai, karena Aroma of Heaven adalah film pertama dari tujuh film tentang kopi yang telah dia rencanakan. Dari awal Budi sadar bahwa menceritakan tentang kopi Indonesia tak bisa dilakukan dengan hanya satu film. Saat ini dia tengah menggarap film keduanya yang diberi judul Legacy of Java.
"Dari judulnya kita bisa melihat bahwa film ini berbicara tentang warisan kopi Jawa. Film ini akan menelisik kopi Jawa dari sudut pandang petani muda di Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Jawa Timur. Isu yang akan diangkat adalah tentang sustainability: bagaimana keberlanjutan kopi Jawa? Lahirlah petani-petani muda di Jawa yang akan melanjutkan legacy sekaligus menjaga sustainability-nya," papar Budi.
Untuk melanjutkan proyek besar tersebut, Budi harus berkeliling Indonesia dan berkunjung ke beberapa negara guna melakukan riset. Di Amerika, misalnya, Budi mengunjungi perpustakaan terbesar di dunia, Library of Congress, untuk menyisir arsip-arsip sejarah mengenai kopi nusantara yang tak bisa ditemukan di Indonesia.
Semua itu tentu membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Karena itu, Budi mengundang siapapun yang berminat untuk menyokong proyek tersebut.
"Jika ada pembaca yang tertarik dan menghubungi saya untuk menyokong, tidak dalam hitungan tahun mungkin itu bisa terealisasi," kata Budi yang membutuhkan waktu lima tahun untuk meriset dan memproduksi sekuel pertamanya.
sumber: detik.com
Belum tentu. Setelah menyaksikan film Aroma of Heaven besutan sutradara muda Budi Kurniawan, kita akan dibuat sadar bahwa ada begitu banyak hal tentang kopi yang belum tergali: tentang sejarahnya, tentang proses produksinya, tentang makna kulturalnya. Pada titik ini, kopi tidak lagi sekedar menjadi komoditas, melainkan sebuah kepingan budaya yang sarat makna namun belum banyak tergali.
"Film ini bicara tentang perjalanan kopi ditumbuhkembangkan di Indonesia lebih dari tiga ratus tahun yang lalu. Yang menjadikannya lebih menarik, selain bicara tentang sejarah kopi film ini juga menelisik aspek budayanya," kata Budi Kurniawan mengawali perbincangan dengan detikcom di sela-sela Specialty Coffee Association of America (SCAA) Expo 2016 di Georgia, Amerika Serikat, Jumat (15/4/2016) lalu.
Budi Kurniawan (foto: Shohib Masykur/detikcom)
|
Namun jika komersialisasi menjadi bagian penting dari pameran, bukan melulu itu yang menjadi tujuan Budi Kurniawan. Dengan filmnya, Budi ingin menyuguhkan secangkir pengetahuan tentang kopi yang selama ini terbenam di bawah tumpukan iklan yang dikuasai oleh para pemain industri besar. Dia ingin menyajikan sebuah fim tentang kopi yang, dalam bahasanya, memiliki "sisi historis, sisi budaya, dan konten."
Dari sisi historis, film ini menelisik sejarah kopi dengan, antara lain, membicarakan tentang pipa penggelondongan kopi di daerah Pekalongan, Jawa Tengah, yang dibuat tahun 1800-an. Di zamannya, pipa itu menjadi penanda bagi kemajuan teknologi perkebunan.
"Bayangkan di zaman segitu pemerintah kolonial sudah membuat satu infrastruktur di mana mereka memetik kopi di ketinggian terus mereka gelontorkan lewat pipa untuk dikirim ke pelabuhan. Jadi ada dua fungsi sekaligus, yaitu sambil digelontorkan kopinya dicuci dengan air yang mengalir di papa," tutur Budi.
Dari sisi budaya, kopi berjalin dengan tradisi masyarakat setempat. Kopi menjadi sarana ekspresi budaya sekaligus merepresentasikan karakter masyarakat di mana kopi itu tumbuh dan berkembang. Di daerah tertentu, ada ritual-ritual yang menjadi bagian dari sisi kultural kopi.
"Di Flores, misalnya, orang memetik kopi sambil bernyanyi. Di Gayo, kopi menjadi sangat romantik karena dikawinkan. Minum kopi pun menjadi terasa begitu intim dengan diri kita, membuat kita melakukan kontemplasi. Mungkin dari situ kita bisa mendapatkan ide hal-hal baru yang distimulan oleh kopi yang kita minum," kata Budi.
Pada kopi kita temukan kelindan segitiga antara alam, manusia, dan budaya. Beragamnya budaya nusantara juga tercermin pada bervariasinya jenis dan cita rasa kopi yang tumbuh di Indonesia.
"Misalnya, kopi Sumatara itu kuat. Kita bisa melihat persamaannya pada karakter orang-orang Sumatera, misalnya Batak. Kemudian kopi Jawa sangat halus, seperti juga orang Jawa. Bali yang sangat eksotis kopinya pun sangat juicy," ujar Budi.
Selain itu, film ini juga mengandung konten: mengajak pemirsa untuk mengubah paradigma berpikir tentang kopi. Apresiasi terhadap kopi sejatinya adalah apresiasi terhadap lingkungan itu sendiri. Lingkungan yang menjadi tempat tumbuh berkembangnya kopi dan masyarakat di sekitarnya. Lingkungan yang menjadi penopang kehidupan umat manusia.
Dengan menelisik sisi kopi yang, dalam bahasanya, "tak terjamah oleh industri besar," Budi sebenarnya sedang mengedukasi kita semua tentang arti minum kopi yang sesungguhnya.
"Bagaimana kita mengubah paradigma berpikir kita, bagaimana konsumsi kita terhadap kopi yang kita minum. Kita memiliki respek terhadap apa yang kita konsumsi. Respek kepada orang-orang yang terlibat dalam kopi itu, dari kebun sampai cangkir," kata Budi.
Respek itu, lanjut Budi, perlu ditunjukkan baik oleh konsumen maupun produsen kopi.
"Dari sudut pandang pengusaha, Anda telah mengambil untung dari bisnis kopi, jadi apa yang Anda berikan kepada kopi? Dari sudut pandang konsumen, seberapa dekat kita dengan kopi yang kita konsumsi? Apakah kita semata-mata terjebak pada sifat konsumtif, ataukah kita membuka mata pada nilai-nilai apresiatif," kata Budi.
Sekaligus, dia juga ingin mengabarkan kepada dunia tentang seluk-beluk kopi Indonesia yang sarat ragam dan makna.
"Jadi mereka tahu bahwa Indonesia punya potensi. Mungkin Indonesia kalah dari Brazil mengenai produktivitas, tapi Indonesia punya ragam yang luar biasa. Di sanalah kekuatan kopi Indonesia. Dalam film Aroma of Heaven, ragam varietas itu direpresentasikan oleh budaya kita," tandas Budi.
Film berdurasi 65 menit itu telah diputar di berbagai negara: Amerika Serikat, Tiongkok, Iran, Korea. Film itu pun telah mendapatkan dua penghargaan internasional, yaitu sebagai film dengan Best Editing pada ajang Ahvaz Science Film Festival di Iran tahun 2014 dan sebagai Best Documentary pada Festival Film Hainan 2015 di Tiongkok.
Namun Budi tidak akan berhenti di sana. Usahanya untuk membungkus ragaman kopi Indonesia ke dalam film baru saja dimulai, karena Aroma of Heaven adalah film pertama dari tujuh film tentang kopi yang telah dia rencanakan. Dari awal Budi sadar bahwa menceritakan tentang kopi Indonesia tak bisa dilakukan dengan hanya satu film. Saat ini dia tengah menggarap film keduanya yang diberi judul Legacy of Java.
"Dari judulnya kita bisa melihat bahwa film ini berbicara tentang warisan kopi Jawa. Film ini akan menelisik kopi Jawa dari sudut pandang petani muda di Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Jawa Timur. Isu yang akan diangkat adalah tentang sustainability: bagaimana keberlanjutan kopi Jawa? Lahirlah petani-petani muda di Jawa yang akan melanjutkan legacy sekaligus menjaga sustainability-nya," papar Budi.
Untuk melanjutkan proyek besar tersebut, Budi harus berkeliling Indonesia dan berkunjung ke beberapa negara guna melakukan riset. Di Amerika, misalnya, Budi mengunjungi perpustakaan terbesar di dunia, Library of Congress, untuk menyisir arsip-arsip sejarah mengenai kopi nusantara yang tak bisa ditemukan di Indonesia.
Semua itu tentu membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Karena itu, Budi mengundang siapapun yang berminat untuk menyokong proyek tersebut.
"Jika ada pembaca yang tertarik dan menghubungi saya untuk menyokong, tidak dalam hitungan tahun mungkin itu bisa terealisasi," kata Budi yang membutuhkan waktu lima tahun untuk meriset dan memproduksi sekuel pertamanya.
sumber: detik.com
Budi Kurniawan (foto: Shohib Masykur/detikcom)
Berbagi itu indah indahnya berbagi dengan membagi artikel ini keteman teman anda di sosial media seperti Facebook, twitter, dan lainnya maka anda sudah melakukan kebaikan yang akan , atau mungkin bermanfaat bagi teman atau sahabat anda. dan mohon bantuanya. Silahkan berkomentar yang relevan dan jangan melakukan SPAM atau meninggalkan link hidup demi kebaikan dan terjamin keindahan dalam persahabatan.