kawasan wisata Bandungan, Kabupaten Semarang,
Jawa Tengah terasa dingin menyengat tubuh. Meski begitu, nampak gadis- gadis
mengenakan tank top dan hotpant. Seakan, dinginnya udara terabaikan. Ya, gadis-
gadis sexy itu memang pekerja sex komersial (PSK) yang memposisikan diri
sebagai pemandu karaoke. Di Bandungan sendiri,
![]() |
| psk bandungan |
terdapat sekitar 700 gadis muda
yang mengais rejeki. Ratusan gadis mau pun janda muda itu tersebar di rumah-
rumah kos, baik di Bandungan sendiri mau pun di wilayah Kecamatan Ambarawa. Angka
700 orang ini bukan asal menebak, sebab berdasarkan data yang dimiliki oleh
Divisi Program Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kabupaten Semarang terdapat
sekitar 700 PSK dengan beragam kasta.Mereka datang dari berbagai tempat di
pulau Jawa. Tak menutup kemungkinan sebagian diantaranya alumni gang Doly
Surabaya, Jawa Timur. Kasta tertinggi dimiliki segelintir PSK yang menyandang
predikat “primadona”. Posturnya tinggi, bertubuh langsing, wajah rupawan , usia
20 an tahun dan semakin lengkap dengan kulitnya yang kuning langsat. Tarifnya ?
“ Untuk short time Rp 500 ribu sampai Rp 1 juta,” kata seorang penjaga hotel
kelas melati. Lho, kok Rp 500 ribu- Rp 1 juta ? Pengertiannya gimana ? Tarif
short time tersebut ternyata mengalami fluktuasi seperti harga minyak mentah
dunia. “ PSK jenis ini sering pilih- pilih customer. Ketika yang ngajak kencan
costumernya masih muda, keren dan wangi maka tarifnya dipatok Rp500 ribu,”
tuturnya. Aku sendiri agak geli, mendengar kata customer ini, meski begitu
tawaku tak sampai meledak. Lantas, bagaimana kalau customernya usianya sudah
bau tanah ? Ya tetap dilayani, tapi kocek yang dirogoh lebih dalam. Tiga jam Rp
1 juta ! Wow….Rp 1 juta hanya untuk melampiaskan nafsu syahwat. Edan tenan. Ada
short time pasti ada juga long time, berapa yang harus dibayar untuk long time
? Mohon maaf, spesies jenis ini, sangat jarang melayani praktik long time.
Mereka termasuk katagori barang langka, jadi ogah diforsir tubuhnya. Karena
tubuh adalah aseet yang harus dijaga. Di lapis ke dua, terdapat PSK katagori
menengah. Tarifnya di kisaran Rp 150 ribu sampai Rp 300 ribu. Seperti halnya
para “primadona”, mereka juga pilih- pilih. Bukan customer yang dipilih, tetapi
tarif mereka menyesuaikan situasi. Saat situasi ramai, tarif Rp 300 ribu yang
dipasang, sementara kalau sepi ya banting harga hingga Rp 150 ribu. Tarif
tersebut untuk short time. Misal pingin long time ? Tergantung negoisasi.
Biasanya Rp 500 ribu sudah deal. Sedang kasta terendah bertarif Rp 100 ribuan
(short time), untuk yang ini, jangan berharap terlalu banyak. Sebab, usianya
rata- rata di atas 30 an tahun. Dengan kata lain, mereka sudah malang melintang
di dunia prostitusi puluhan tahun atau mereka sebelumnya telah berkeluarga.
Otomatis, “perangkat lunaknya” tak sedahsyat pemula. MELALUI CALO Berada
di kawasan Bandungan, sepertinya susah menghindar dari papas an gadis- gadis
muda itu. Untuk yang memiliki bekal agama kuat, hal tersebut tidak ngefek.
Tapi, bagi pria yang lemah iman, saat melihat paha mulus dibalut hotpant ketat,
rasanya libido langsung menanjak naik. Pinginnya cepet- cepet mengetahui isi di
balik hotpant itu. Untuk lelaki hidung belang yang lagi “belajar” memasuki
dunia prostitusi, pasti merasa kebingungan untuk memulai kencannya dengan
gadis- gadis itu. Tak perlu khawatir. Para penjaga hotel, dengan sigap akan
membantu memanggil mereka, “ Sebutkan kriterianya, mau yang seperti apa. Nanti
kami yang mengatur semuanya,” jelas penjaga hotel yang sama. Ya, para penjaga
hotel dan losmen di Bandungan memang merangkap menjadi calo. Gaji mereka tak
seberapa perbulannya, dengan menjadi calo PSK, rata- rata mereka mendapat
komisi 25 persen dari tarif yang dipatok. “ Tak usah ngrembuk (bicara) halal
atau haram mas. Saat ini yang haram saja sulit, apa lagi yang halal,” tukasnya
sembari cengengesan. Penasaran dengan yang “primadona”, akhirnya kami sepakat
untuk melihat seperti apa makhluk berpredikat “primadona” itu. Sekitar pk
20.00, kami nongkrong di salah satu lokasi Karaoke paling terkenal. “ Untuk
yang ‘primadona’, nongkrongnya di sini mas,” bisiknya. Kurang lebih 30 menit
kemudian, penjaga hotel berbisik sembari menunjuk gadis muda yang baru saja
masuk ke loby. Gadis berwajah innocent ini mengenakan gaun panjang berwarna
krem, dipadu dengan blazer coklat muda. Make up yang menempel sangat tipis,
sehingga kesan naturalnya sangat kental. Menilik raut wajahnya, paling usianya
maksimal 25 tahun. Dipandu penjaga hotel kami berkenalan, jabatan tangannya
lembut. Seraya berbisik, ia menyebut namanya Dewi. Sebagai pria normal, aku
sempat terpana. Gila…secara fisik, ia layak mendapat nilai minimal 9. Terlebih
ketika ia bergerak sedikit, bau parfum green tea produk Elizabeth Arden seakan
menebar. Jelas parfum yang dipakainya bukan parfum murahan. Dalam hati aku
membatin, ya Tuhan kenapa gadis yang sangat mempesona ini tersesat di jalan
yang terang ? Sorot matanya teduh, tak ada kesan bahwa dirinya seorang PSK yang
menyandang predikat “primadona”. Meski begitu, sorot matanya sempat mencuri-
curi penampilan lawan bicaranya. Mungkin ia lagi menilai, layak atau tidak
orang yang di depannya mengajak berkencan. Mulutnya lebih banyak diam ketika
diajak berbincang. Hampir 10 menit “diskusi”, kepala Dewi tak mengangguk tapi
tak juga mengiayakan tawaran berkencan sesaat. Hingga tiba- tiba, smart phone
miliknya bergetar. Nampaknya ada pesan masuk. Usai membaca isi pesan sebentar,
dengan santun ia berpamitan. Ada customer langganannya menunggunya. Dalam
sekejab, tubuhnya menghilang sementara bau parfumnya masih belum raib. “
Njenengan (anda) kebanyakan bicara mas, jadi dia tak percaya isi kantong
njenengan, “ kata penjaga hotel seakan menyesali lenyapnya tip yang bakal ia
terima. Agar perasaan sipenjaga hotel tak terlalu berlarut menyesali nasipnya
malam ini, kami pun sepakat akan booking PSK dari kasta menengah. Aku diajaknya
ke salah satu rumah kos. Di mana, karena sudah banyak yang “berdinas”, kami
hanya ketemu dengan empat orang gadis. Seperti seragam wajib, pakaian yang
dikenakan nyaris sama. Bagian atas tank top, bagian bawah hotpant ketat.Bahkan,
saking ketatnya hotpant yang dipakai, aku meyakini ukurannya terlalu kecil buat
mereka. Setelah sempat say hello dengan keempatnya, sekedar basa- basi kami
mencairkan suasana yang agak kaku. Jauh berbeda dengan PSK yang menyandang
level “primadona”, para gadis muda ini dari tubuhnya menebar bau parfum yang
biasa dijual di mini market bercampur bau parfum laundry. Kendati wajah mereka
rata- rata bernilai 7, namun jangan diharap enak diajak ngobrol. Mereka lebih
banyak tertawa cekikikan meski tak ada yang lucu. Kira- kira memakan durasi 15
menit kami ngobrol. Empat gadis itu mulai merasa ada yang tak beres, keramahan
semu dan keganjenannya mendadak hilang. Satu persatu mulai meninggalkan ruangan
tamu kos-kosan. Ada yang dijemput, ada pula yang keluar ruangan begitu saja. Hingga
tinggal kami berdua, sesama pria dengan tujuan yang berbeda. “ Wuah ! Njenengan
itu tidak belajar dari pengalaman mas. Di sini ga usah banyak ngomong. Kalau
seperti ini terus, ya ga bakalan dapat cewek,” gerutu penjaga hotel sambil
menggaruk kepalanya yang tak gatal. Aku hanya bisa minta maaf, akibat
kebodohanku ia tak mendapatkan tip. Sampai akhirnya, aku berjanji bahwa besok
malam akan datang bersama relasiku dan memastikan kejadian tadi tidak bakal
terulang. “ Ya mas, saya tunggu. Tapi jangan terlalu malam kesininya,” tukasnya
sambil memasukan pecahan Rp 50 ribuan yang sengaja kuselipkan di tangannya. (*)

Berbagi itu indah indahnya berbagi dengan membagi artikel ini keteman teman anda di sosial media seperti Facebook, twitter, dan lainnya maka anda sudah melakukan kebaikan yang akan , atau mungkin bermanfaat bagi teman atau sahabat anda. dan mohon bantuanya. Silahkan berkomentar yang relevan dan jangan melakukan SPAM atau meninggalkan link hidup demi kebaikan dan terjamin keindahan dalam persahabatan.