-Perlawanan Pangeran Diponegoro
Pengaruh
Belanda di Surakarta dan Yogyakarta semakin bertambah kuat pada permulaan abad
ke-19. Khususnya di Yogyakarta, campur tangan Belanda telah menimbulkan
kekecewaan di kalangan kerabat keraton yang kemudian menimbulkan perlawanan di
bawah pimpinan Pangeran Diponegoro. Sebab-sebab perlawanan Diponegoro, antara
lain sebagai berikut:
- Adanya
kekecewaan dan kebencian kerabat istana terhadap tindakan Belanda yang
makin intensif mencampuri urusan keraton melalui Patih Danurejo (kaki
tangan Belanda).
- Adanya
kebencian rakyat pada umumnya dan para petani khususnya akibat tekanan
pajak yang sangat memberatkan.
- Adanya
kekecewaan di kalangan para bangsawan, karena hak-haknya banyak yang
dikurangi.
- Sebagai
sebab khususnya ialah adanya pembuatan jalan oleh Belanda melewati makam
leluhur Pangeran Diponegoro di Tegalrejo.
Pertempuran perrtama meletus pada tanggal 20 Juli 1825
di Tegalrejo. Setelah pertempuran di Tegalrejo, Pangeran Diponegoro dan
pasukannya menyingkir ke Dekso. Di daerah Plered, pasukan Diponegoro dipimpin
oleh Kertapengalasan yang memiliki kemampuan yang cukup kuat. Kabar mengenai
pecahnya perang melawan Belanda segera meluas ke berbagai daerah. Dengan
dikumandangkannya perang sabil, di Surakarta oleh Kiai Mojo, di Kedu oleh Kiai
Hasan Besari, dan di daerah-daerah lain maka pada pertempuran-pertempuran tahun
1825–1826 pasukan Belanda banyak terpukul dan terdesak. engan
berbagai tipu daya, akhirnya satu per satu pemimpin perlawanan tertangkap dan
menyerah, antara lain Pangeran Suryamataram dan Ario Prangwadono (tertangkap 19
Januari 1827), Pangeran Serang, dan Notoprodjo (menyerah 21 Juni 1827, Pangeran
Mangkubumi (menyerah 27 September 1829), dan Alibasah Sentot Prawirodirdjo
(menyerah tanggal 24 Oktober 1829). Kesemuanya itu merupakan pukulan yang berat
bagi Pangeran Diponegoro. Melihat situasi yang demikian, pihak Belanda
ingin menyelesaikan perangsecara cepat. Jenderal de Kock melakukan tipu
muslihat dengan mengajak berunding Pangeran Diponegoro. De Kock berjanji
apabila perundingan gagal maka Diponegoro diperbolehkan kembali ke pertahanan.
Atas dasar janji tersebut, Diponegoro mau berunding di rumah Residen
Kedu, Magelang pada tanggal 28 Maret 1830. Namun, De Kock ingkar janji sehingga
Pangeran Diponegoro ditangkap ketika perundingan mengalami kegagalan. Akhirnya
Belanda berhasil menangkap Pangeran Diponegoro pada tanggal 28 Maret 1830 dan
dibawa ke Batavia dengan kapal “Pollaz”, terus diasingkan ke Manado. Pada tahun
1834 dipindahkan ke Makassar dan akhirnya wafat pada tanggal 8 Januari 1855.
Perang Diponegoro yang panjang membawa akibat sebagai berikut.
- Wilayah Mataram Yogyakarta dan
Surakarta menjadi sempit, PB VI yang ikut melawan Belanda akhirnya dibunuh
di Ambon (1830).
- Belanda memperoleh daerah
Surakarta – Yogyakarta sebagai daerah yang diperas kekayaannya.
- Adanya sebagian cukai yang
dihapus untuk mengurangi kerusuhan.
- Kas negara Belanda menjadi
kosong sehingga atas prakarsa dari Van Den Bosch diterapkan tanam paksa di
Indonesai
-Perlawanan Rakyat Sulawesi
Berakhirnya pemerintahan Inggris
(1811-1816) menyebabkan Belanda kembali ke Sulawesi Selatan. Belanda menghadapi
situasi yang kurang memuaskan. Hanya Kerajaan Gowa yang mau mengakui kekuasaan
Belanda, sedangkan Kerajaan Soppeng dan Wajo tidak. Oleh karena itu, Belanda
mengundang raja-raja Sulawesi Selatan untuk meninjau kembali Perjanjian Bongaya
(1667). Menurut Belanda, Perjanjian Bongaya tidak sesuai lagi dengan sistem
pemerintahan imperialismenya. Pertemuan tersebut hanya dihadiri Raja Gowa dan
Sidenreng.
Pada tahun 1824, Belanda menyerang
Tanette dan berhasil menguasainya. Belanda juga menyerang Kerajaan Suppa dan
mendapat perlawanan keras dari rakyatnya sehingga menderita kekalahan. Belanda
mengadakan serangan kedua ke Kerajaan Suppa yang dibantu oleh pasukan dari Gowa
dan Sidenreng. Menghadapi kekuatan besar, Kerajaan Suppa menderita kekalahan
dan Belanda berhasil menduduki beberapa bentengnya. Pada bulan Oktober 1824,
pasukan Bone dapat menghancurkan pos-pos Belanda di Pangkajene, Labakang, dan
merebut kembali Tanette. Rajanya dinaikkan takhta kembali, kemudian Tanette
bergabung dengan Bone. Kekuatan Bone makin besar dan daerah kekuasaannya makin
luas. Oleh karena itu, Bone merasa berkewajiban melindungi kerajaan-kerajaan
lainnya.
Di sisi lain, kedudukan Belanda di
Makassar makin lemah. Oleh karena itu, Belanda meminta bantuan ke Batavia.
Pemerintah kolonial Belanda di Batavia mengirimkan pasukannya di bawah pimpinan
Jenderal Mayor van Geen. Pada tanggal 5 Februari 1825, van Geen menyerang
pusat-pusat pertahanan pasukan Bone, terutama Bulukamba, Suppa, Segeri,
Labakang, dan Pangkajene. Pada saat yang bersamaan, Raja Tanette (wanita)
berbalik memihak Belanda. Hal ini jelas melemahkan Bone. Pertempuran terus
berkobar dan pasukan Bone bertahan mati-matian. Karena kalah dalam
persenjataan, pasukan Bone makin terdesak. Benteng Bone yang terkuat di
Bulukamba dapat dikuasai oleh Belanda. Dengan jatuhnya Bone, perlawanan rakyat
makin melemah. Namun, pertempuran-pertempuran kecil masih terus berlangsung
hingga awal abad ke-20.
-Sejarah R.A.KARTINI
RA. Kartini lahir pada tanggal 21
April 1879 di Jepara, Jawa Tengah. RA. Kartini dikenal sebagai wanita yang
mempelopori kesetaraan derajat antara wanita dan pria di Indonesia. Hal ini
dimulai ketika Kartini merasakan banyaknya diskriminasi yang terjadi antara
pria dan wanita pada masa itu, dimana beberapa perempuan sama sekali tidak
diperbolehkan mengenyam pendidikan. Kartini sendiri mengalami kejadian ini ketika
ia tidak diperbolehkan melanjutkan studinya ke jenjang yang lebih tinggi.
Kartini sering berkorespondensi dengan teman-temannya di luar negeri, dan
akhirnya surat-surat tersebut dikumpulkan oleh Abendanon dan diterbitkan
sebagai buku dengan judul “Habis Gelap Terbitlah Terang”. Kartini yang memiliki
nama panjang Raden Adjeng Kartini ini ialah anak perempuan dari seorang patih
yang kemudian diangkat menjadi bupati Jepara, Raden Mas Adipati Ario
Sosroningrat. Ibu dari Kartini memiliki nama M.A. Ngasirah, istri pertama dari
Sosroningrat yang bekerja sebagai guru agama di salah satu sekolah di
Telukawur, Jepara. Silsilah keluarga Kartini dari ayahnya, bisa dilacak terus
hingga Sultan Hamengkubuwono IV, dan garis keturunan Sosroningrat sendiri bisa
terus ditelusuri hingga pada masa Kerajaan Majapahit.

Berbagi itu indah indahnya berbagi dengan membagi artikel ini keteman teman anda di sosial media seperti Facebook, twitter, dan lainnya maka anda sudah melakukan kebaikan yang akan , atau mungkin bermanfaat bagi teman atau sahabat anda. dan mohon bantuanya. Silahkan berkomentar yang relevan dan jangan melakukan SPAM atau meninggalkan link hidup demi kebaikan dan terjamin keindahan dalam persahabatan.