Tampilkan postingan dengan label Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Indonesia. Tampilkan semua postingan

Sejarah dan Asal Usul Pembangunan Berdirinya Monas [ Monumen Nasional ].

Sejarah dan Asal Usul Pembangunan Berdirinya Monas [ Monumen Nasional ].
Monas [ Monumen Nasional ] – Menomen ini terletak persis di Pusat Kota Jakarta. Tugu Monas merupakan tugu kebanggaan bangsa Indonesia, selain itu monas juga menjadi salah satu pusat tempat wisata dan pusat pendidikan yang menarik bagi warga Indonesa baik yang dijakarta maupun di luar Jakarta. Tujuan pembangunan tugu monas adalah untuk mengenang dan mengabadikan kebesaran perjuangan Bangsa Indonesia yang dikenal dengan Revolusi 17 Agustus 1945, dan juga sebagai wahana untuk membangkitkan semangat patriotisme generasi sekarang dan akan datang.


Monas mulai dibangun pada bulan Agustus 1959. Keseluruhan bangunan Monas dirancang oleh para arsitek Indonesia yaitu Soedarsono, Frederich Silaban dan Ir. Rooseno. Pada tanggal 17 Agustus 1961, Monas diresmikan oleh Presiden Soekarno. Dan mulai dibuka untuk umum sejak tanggal 12 Juli 1975.

Tugu Monas punya ciri khas tersendiri, sebab arsitektur dan dimensinya melambangkan kias kekhususan Indonesia. Bentuk yang paling menonjol adalah tugu yang menjulang tinggi dan pelataran cawan yang luas mendatar. Di atas tugu terdapat api menyala seakan tak kunjung padam, melambangkan keteladanan semangat bangsa Indonesia yang tidak pernah surut berjuang sepanjang masa.

 http://satupedang.blogspot.com/2015/08/sejarah-pembangunan-monas-monumen.html

Bentuk dan tata letak Monas yang sangat menarik memungkinkan pengunjung dapat menikmati pemandangan indah dan sejuk yang memesona, berupa taman di mana terdapat pohon dari berbagai provinsi di Indonesia. Kolam air mancur tepat di lorong pintu masuk membuat taman menjadi lebih sejuk, ditambah dengan pesona air mancur bergoyang.

Di dekat pintu masuk menuju pelataran Monas itu juga nampak megah berdiri patung Pangeran Diponegoro yang sedang menunggang kuda. Patung yang terbuat dari perunggu seberat 8 ton itu dikerjakan oleh pemahat Italia, Prof Coberlato sebagai sumbangan oleh Konsulat Jendral Honores, Dr Mario di Indonesia.

Gagasan awal pembangunan Monas muncul setelah sembilan tahun kemerdekaan diproklamirkan. Beberapa hari setelah peringatah HUT ke-9 RI, dibentuk Panitia Tugu Nasional yang bertugas mengusahakan berdirinya Tugu Monas. Panitia ini dipimpin Sarwoko Martokusumo, S Suhud selaku penulis, Sumali Prawirosudirdjo selaku bendahara dan dibantu oleh empat orang anggota masing-masing Supeno, K K Wiloto, E F Wenas, dan Sudiro.

http://satupedang.blogspot.com/Panitia yang dibentuk itu bertugas mempersiapkan segala sesuatu yang berhubungan dengan pembangunan Monas yang akan didirikan di tengah lapangan Medan Merdeka, Jakarta . Termasuk mengumpulkan biaya pembangunannya yang harus dikumpulkan dari swadaya masyarakat sendiri.

Setelah itu, dibentuk panitia pembangunan Monas yang dinamakan ”Tim Yuri” diketuai langsung Presiden RI Ir Soekarno. Melalui tim ini, sayembara diselenggarakan dua kali. Sayembara pertama digelar pada 17 Februari 1955, dan sayembara kedua digelar 10 Mei 1960 dengan harapan dapat menghasilkan karya budaya yang setinggi-tingginya dan menggambarkan kalbu serta melambangkan keluhuran budaya Indonesia.

Dengan sayembara itu, diharapkan bentuk tugu yang dibangun benar-benar bisa menunjukan kepribadian bangsa Indonesia bertiga dimensi, tidak rata, tugu yang menjulang tinggi ke langit, dibuat dari beton dan besi serta batu pualam yang tahan gempa, tahan kritikan jaman sedikitnya seribu tahun serta dapat menghasilkan karya budaya yang menimbulkan semangat kepahlawanan.

Oleh Tim Yuri, pesan harapan itu dijadikan sebagai kriteria penilaian yang kemudian dirinci menjadi lima kriteria meliputi harus memenuhi ketentuan apa yang dinamakan Nasional, menggambarkan dinamika dan berisi kepribadian Indonesia serta mencerminkan cita-cita bangsa, melambangkan dan menggambarkan “api yang berkobar” di dalam dada bangsa Indonesia, menggambarkan hal yang sebenarnya bergerak meski tersusun dari benda mati, dan tugu harus dibangun dari benda-benda yang tidak cepat berubah dan tahan berabad-abad.

Namun, dua kali sayembara digelar, tidak ada rancangan yang memenuhi seluruh kriteria yang ditetapkan panitia. Akhirnya, ketua Tim Yuri menunjuk beberapa arsitek ternama yaitu Soedarsono dan Ir F Silaban untuk menggambar rencana tugu Monas. Keduanya arsitek itu sepakat membuat gambarnya sendiri-sendiri yang selanjutnya diajukan ke ketua Tim Yuri (Presiden Soekarno), dan ketua memilih gambar yang dibuat Soedarsono.

Dalam rancangannya, Soedarsono mengemukakan landasan pemikiran yang mengakomodasi keinginan panitia. Landasan pemikiran itu meliputi kriteria Nasional. Soedarsono mengambil beberapa unsur saat Proklamasi Kemerdekaan RI yang mewujudkan revolusi nasional sedapat mungkin menerapkannya pada dimensi arsitekturnya yaitu angka 17, 8, dan 45 sebagai angka keramat Hari Proklamasi.

 http://satupedang.blogspot.com/

Bentuk tugu yang menjulang tinggi mengandung falsafah “Lingga dan Yoni” yang menyerupai “Alu”sebagai “Lingga” dan bentuk wadah (cawan-red) berupa ruangan menyerupai “Lumpang” sebagai “Yoni”. Alu dan Lumpang adalah dua alat penting yang dimiliki setiap keluarga di Indonesia khususnya rakyat pedesaan. Lingga dan Yoni adalah simbol dari jaman dahulu yang menggambarkan kehidupan abadi, adalah unsur positif (lingga) dan unsur negatif (yoni) seperti adanya siang dan malam, laki-laki dan perempuan, baik dan buruk, merupakan keabadian dunia.

Bentuk seluruh garis-garis arsitektur tugu ini mewujudkan garis-garis yang bergerak tidak monoton merata, naik melengkung, melompat, merata lagi, dan naik menjulang tinggi, akhirnya menggelombang di atas bentuk lidah api yang menyala. Badan tugu menjulang tinggi dengan lidah api di puncaknya melambangkan dan menggambarkan semangat yang berkobar dan tak kunjung padam di dalam dada bangsa Indonesia.

Pembangunan tugu Monas dilaksanakan melalui tiga tahapan yaitu tahap pertama (1961-1965), kedua (1966-1968), dan tahap ketiga (1969-1976). Pada tahap pertama pelaksanaan pekerjaannya dibawah pengawasan Panitia Monumen Nasional dan biaya yang digunakan bersumber dari sumbangan masyarakat.
Tahap kedua pekerjaannya masih dilakukan dibawah pengawasan panitia Monas. Hanya saja, biaya pembangunannya bersumber dari Anggaran Pemerintah Pusat c.q Sekertariat Negara RI. Pada tahap kedua ini, pembangunan mengalami kelesuan, karena keterbatasan biaya.

Tahap ketiga pelaksanaan pekerjaan berada dibawah pengawasan Panitia Pembina Tugu Nasional, dan biaya yang digunakan bersumber dari Pemerintah Pusat c.q Direktorat Jenderal Anggaran melalui Repelita dengan menggunakan Daftar Isian Proyek (DIP).

Ruang museum sejarah yang terletak tiga meter dibawah permukaan halaman tugu memiliki ukuran 80X80 meter. Dinding serta lantai di ruang itu pun semuanya dilapisi batu marmer. Di dalam ruangan itu, pengunjung disajikan dengan 51 jendela peragaan (diorama) yang mengabadikan sejarah sejak jaman kehidupan nenek moyang bangsa Indonesia, perjuangan mempertahankan kemerdekaan dan kedaulatan bangsa Indonesia hingga masa pembangunan di jaman orde baru. Di ruangan ini pula, pengunjung juga dapat mendengar rekaman suara Bung Karno saat membacakan Proklamasi.

 http://satupedang.blogspot.com/

Ruang Kemerdekaan
Sementara di ruang kemerdekaan yang berbentuk amphitheater terletak di dalam cawan tugu, terdapat empat atribut kemerdekaan meliputi peta kepulauan Negara RI , Lambang Negara Bhinneka Tunggal Ika, dan pintu Gapura yang berisi naskah Proklamasi Kemerdekaan.

Di pelataran puncak tugu yang terletak pada ketinggian 115 meter dari halaman tugu memiliki ukuran 11X11 meter, pengunjung dapat mencapai pelataran itu dengan menggunakan elevator (lift-red) tunggal yang berkapasitas sekitar 11 orang.

Di pelataran yang mampu menampung sekitar 50 orang itu juga disediakan empat teropong di setiap sudut, dimana pengunjung bisa melihat pemandangan Kota Jakarta dari ketinggian 132 meter dari halaman tugu Monas.

Lidah api yang terbuat dari perunggu seberat 14,5 ton dengan tinggi 14 meter dan berdiameter 6 meter, terdiri dari 77 bagian yang disatukan. Seluruh lidah api dilapisi lempengan emas seberat 35 kilogram, dan kemudian pada HUT ke-50 RI, emas yang melapisi lidah api itu ditambah menjadi 50 kilogram.


Sumber : http://satupedang.blogspot.com/2015/08/sejarah-pembangunan-monas-monumen.html#ixzz4ccuzRV5H

-Perlawanan Pangeran Diponegoro

       -Perlawanan Pangeran Diponegoro
        Pengaruh Belanda di Surakarta dan Yogyakarta semakin bertambah kuat pada permulaan abad ke-19. Khususnya di Yogyakarta, campur tangan Belanda telah menimbulkan kekecewaan di kalangan kerabat keraton yang kemudian menimbulkan perlawanan di bawah pimpinan Pangeran Diponegoro. Sebab-sebab perlawanan Diponegoro, antara lain sebagai berikut:
  1. Adanya kekecewaan dan kebencian kerabat istana terhadap tindakan Belanda yang makin intensif mencampuri urusan keraton melalui Patih Danurejo (kaki tangan Belanda).
  2. Adanya kebencian rakyat pada umumnya dan para petani khususnya akibat tekanan pajak yang sangat memberatkan.
  3. Adanya kekecewaan di kalangan para bangsawan, karena hak-haknya banyak yang dikurangi.
  4. Sebagai sebab khususnya ialah adanya pembuatan jalan oleh Belanda melewati makam leluhur Pangeran Diponegoro di Tegalrejo.
           Pertempuran perrtama  meletus pada tanggal 20 Juli 1825 di Tegalrejo. Setelah pertempuran di Tegalrejo, Pangeran Diponegoro dan pasukannya menyingkir ke Dekso. Di daerah Plered, pasukan Diponegoro dipimpin oleh Kertapengalasan yang memiliki kemampuan yang cukup kuat. Kabar mengenai pecahnya perang melawan Belanda segera meluas ke berbagai daerah. Dengan dikumandangkannya perang sabil, di Surakarta oleh Kiai Mojo, di Kedu oleh Kiai Hasan Besari, dan di daerah-daerah lain maka pada pertempuran-pertempuran tahun 1825–1826 pasukan Belanda banyak terpukul dan terdesak. engan berbagai tipu daya, akhirnya satu per satu pemimpin perlawanan tertangkap dan menyerah, antara lain Pangeran Suryamataram dan Ario Prangwadono (tertangkap 19 Januari 1827), Pangeran Serang, dan Notoprodjo (menyerah 21 Juni 1827, Pangeran Mangkubumi (menyerah 27 September 1829), dan Alibasah Sentot Prawirodirdjo (menyerah tanggal 24 Oktober 1829). Kesemuanya itu merupakan pukulan yang berat bagi Pangeran Diponegoro. Melihat situasi yang demikian, pihak Belanda ingin menyelesaikan perangsecara cepat. Jenderal de Kock melakukan tipu muslihat dengan mengajak berunding Pangeran Diponegoro. De Kock berjanji apabila perundingan gagal maka Diponegoro diperbolehkan kembali ke pertahanan. Atas dasar janji tersebut,  Diponegoro mau berunding di rumah Residen Kedu, Magelang pada tanggal 28 Maret 1830. Namun, De Kock ingkar janji sehingga Pangeran Diponegoro ditangkap ketika perundingan mengalami kegagalan. Akhirnya Belanda berhasil menangkap Pangeran Diponegoro pada tanggal 28 Maret 1830 dan dibawa ke Batavia dengan kapal “Pollaz”, terus diasingkan ke Manado. Pada tahun 1834 dipindahkan ke Makassar dan akhirnya wafat pada tanggal 8 Januari 1855. Perang Diponegoro yang panjang membawa akibat sebagai berikut.
  1. Wilayah Mataram Yogyakarta dan Surakarta menjadi sempit, PB VI yang ikut melawan Belanda akhirnya dibunuh di Ambon (1830).
  2. Belanda memperoleh daerah Surakarta – Yogyakarta sebagai daerah yang diperas kekayaannya.
  3. Adanya sebagian cukai yang dihapus untuk mengurangi kerusuhan.
  4. Kas negara Belanda menjadi kosong sehingga atas prakarsa dari Van Den Bosch diterapkan tanam paksa di Indonesai
        -Perlawanan Rakyat Sulawesi
     Berakhirnya pemerintahan Inggris (1811-1816) menyebabkan Belanda kembali ke Sulawesi Selatan. Belanda menghadapi situasi yang kurang memuaskan. Hanya Kerajaan Gowa yang mau mengakui kekuasaan Belanda, sedangkan Kerajaan Soppeng dan Wajo tidak. Oleh karena itu, Belanda mengundang raja-raja Sulawesi Selatan untuk meninjau kembali Perjanjian Bongaya (1667). Menurut Belanda, Perjanjian Bongaya tidak sesuai lagi dengan sistem pemerintahan imperialismenya. Pertemuan tersebut hanya dihadiri Raja Gowa dan Sidenreng.
         Pada tahun 1824, Belanda menyerang Tanette dan berhasil menguasainya. Belanda juga menyerang Kerajaan Suppa dan mendapat perlawanan keras dari rakyatnya sehingga menderita kekalahan. Belanda mengadakan serangan kedua ke Kerajaan Suppa yang dibantu oleh pasukan dari Gowa dan Sidenreng. Menghadapi kekuatan besar, Kerajaan Suppa menderita kekalahan dan Belanda berhasil menduduki beberapa bentengnya. Pada bulan Oktober 1824, pasukan Bone dapat menghancurkan pos-pos Belanda di Pangkajene, Labakang, dan merebut kembali Tanette. Rajanya dinaikkan takhta kembali, kemudian Tanette bergabung dengan Bone. Kekuatan Bone makin besar dan daerah kekuasaannya makin luas. Oleh karena itu, Bone merasa berkewajiban melindungi kerajaan-kerajaan lainnya. 
     Di sisi lain, kedudukan Belanda di Makassar makin lemah. Oleh karena itu, Belanda meminta bantuan ke Batavia. Pemerintah kolonial Belanda di Batavia mengirimkan pasukannya di bawah pimpinan Jenderal Mayor van Geen. Pada tanggal 5 Februari 1825, van Geen menyerang pusat-pusat pertahanan pasukan Bone, terutama Bulukamba, Suppa, Segeri, Labakang, dan Pangkajene. Pada saat yang bersamaan, Raja Tanette (wanita) berbalik memihak Belanda. Hal ini jelas melemahkan Bone. Pertempuran terus berkobar dan pasukan Bone bertahan mati-matian. Karena kalah dalam persenjataan, pasukan Bone makin terdesak. Benteng Bone yang terkuat di Bulukamba dapat dikuasai oleh Belanda. Dengan jatuhnya Bone, perlawanan rakyat makin melemah. Namun, pertempuran-pertempuran kecil masih terus berlangsung hingga awal abad ke-20.
          -Sejarah R.A.KARTINI

      RA. Kartini lahir pada tanggal 21 April 1879 di Jepara, Jawa Tengah. RA. Kartini dikenal sebagai wanita yang mempelopori kesetaraan derajat antara wanita dan pria di Indonesia. Hal ini dimulai ketika Kartini merasakan banyaknya diskriminasi yang terjadi antara pria dan wanita pada masa itu, dimana beberapa perempuan sama sekali tidak diperbolehkan mengenyam pendidikan. Kartini sendiri mengalami kejadian ini ketika ia tidak diperbolehkan melanjutkan studinya ke jenjang yang lebih tinggi. Kartini sering berkorespondensi dengan teman-temannya di luar negeri, dan akhirnya surat-surat tersebut dikumpulkan oleh Abendanon dan diterbitkan sebagai buku dengan judul “Habis Gelap Terbitlah Terang”. Kartini yang memiliki nama panjang Raden Adjeng Kartini ini ialah anak perempuan dari seorang patih yang kemudian diangkat menjadi bupati Jepara, Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat. Ibu dari Kartini memiliki nama M.A. Ngasirah, istri pertama dari Sosroningrat yang bekerja sebagai guru agama di salah satu sekolah di Telukawur, Jepara. Silsilah keluarga Kartini dari ayahnya, bisa dilacak terus hingga Sultan Hamengkubuwono IV, dan garis keturunan Sosroningrat sendiri bisa terus ditelusuri hingga pada masa Kerajaan Majapahit.

Rudal China Gagal Meluncur, TNI AL Diminta Batalkan Pembelian

Rudal China Gagal Meluncur, TNI AL Diminta Batalkan Pembelian

Rudal China Gagal Meluncur, TNI AL Diminta Batalkan Pembelian
Rudal C705 buatan China. (Istimewa/Militerhankam)

Kekecewaan Presiden Joko Widodo (Jokowi) terhadap kualitas rudal C705 pada acara latihan gabungan militer XXIV/2016 beberapa hari lalu, harus cepat disikapi oleh Kementerian Pertahanan (Kemhan).
Anggota Komisi I DPR Bobby Adhityo Rizaldi menilai rudal C705 yang gagal meluncur dalam latihan gabungan itu merupakan insiden memalukan. Terlebih, peluncuran ini disaksikan oleh Presiden Jokowi dan membuat kecewa mantan Gubernur DKI Jakarta tersebut.

"Harus diinvestigasi dan juga dievaluasi, apakah rudal yang harganya konon Rp 20 miliar sebuah tersebut rusak sebelum diterima atau alat komunikasi data yang bermasalah," ‎ujar Bobby Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Jumat (16/9/2016).
Dia menilai insiden rudal C705 itu membentuk kesan militer Indonesia lemah di mata negara-negara sekitar. Apalagi rudal C705 itu rencananya digunakan untuk menjaga kedaulatan negara di Laut China Selatan.
‎"Saya dukung TNI AL untuk menunda kerja sama militer dengan China dalam hal kontrak rudal C705, dan membatalkan niat untuk membeli lebih banyak lagi dan mengalihkan pada alutsista utama dari negara lain," ujar Bobby.
Politikus Partai Golkar ini juga menilai kerja sama Kemhan dengan Sastind China dalam hal transfer teknologi perlu dievaluasi. Salah satunya terkait campur tangan PT Dirgantara Indonesia.

"Kekecewaan Presiden harus disikapi dengan aksi yang cepat, sebelum kerja sama militer dengan Sastind China merugikan Indonesia," tandas Bobby.

Rudal C705 tidak mau meluncur saat ditembakkan dari KRI Clurit 641. Sempat delay 5 menit, rudal itu tidak mampu mengenai sasaran saat latihan militer beberapa waktu lalu. Ini dinilai dapat memberi efek buruk bagi citra militer Indonesia.

Dengan Kerja Keras Dan Inovasi Hary Tanoe Yakin Perindo Akan Menjadi Partai Besar

Dengan Kerja Keras Dan Inovasi Hary Tanoe Yakin Perindo Akan Menjadi Partai Besar

Blitar, MajalahPanji.com-Sebagai Partai Politik baru, Partai Perindo terus membangun kekuatan sebagai Partai Besar di masa depan. Langkah dan strtategi Partai yang dipimpin oleh Harry Tanoesoedibjo ini sudah disusun mulai dari sekarang. menata Kader dari awal sudah dilakukan guna mencetak Kader unggul Partai Perindo yang siap bertarung di Parlemen sebagai wakil rakyat.
Hary Tanoe saat menyampaikam pidato di depan kader Perindo se Dapil VI Jatim.(Foto : Nur)
Pembangunan  Partai nampak dengan dilantiknya pengurus DPD dan DPC Partai Perindo Se Dapil VI Jawa Timur, Senin (18/1/2016). Dalam agenda yang dimulai sekitar pukul 15.30 Wib bertempat di salah satu restoran yang ada di Kota Blitar ini dihadiri langsung oleh Hary Tanoesoedibjo yang merupakan Ketua Umum DPP Partai Perindo.
Dalam sambutanya kali ini, Hary Tanoesoedibjo menyampaikan jika dibentuknya Partai Perindo dilatarbelakangi belum makmurnya bangsa Indonesia. Menurut bos MNC TV ini, belum makmurnya Indoensia nampak dari melambungnya harga bahan pokok seperti beras, cabe, gula dan bahan kebutuhan pokok lainnya.
“ Dulu kita berswasembada pangan, namun kini semuanya terbalik. Selama Indonesia seperti ini maka tidak akan maju. Kondisi ekonomi jaman sekarang sangat jauh dari harapan, ” katanya.
Menurut Hary, Indonesia akan bisa maju jika ada perbaikan di bidang hukum dan moral. Hal inilah mengapa Partai Perindo didirikan, Partai Perindo didirikan untuk mengembalikan cita-cita bangsa Indonesia di awal Kemerdekaan. Dengan prinsip kera keras dan inovatis Hary optimis kedepan Perindo akan menjadi Partai besar.
“ Saya ingin seluruh Kader Partai Perindo bekerja keras dengan diimbangi hal-hal yang inovatif untuk mengembalikan kejayaan bangsa Indonesia. Kerja keras saja tak akan berhasil jika tidak diimbangi inovasi. Partai Perindo harus berbeda dengan Partai yang lain, disini kerja keras dan inovasi menjadi hal yang utama.” ungkapnya.
Adapun ketua DPD yang dilantik kali ini adalah, Herry Widianto (Kota Blitar), Agus Riadi (Kabupaten Blitar), Darmono (Kabupaten Tulungagung), Heri Purnawirawan (Kabupaten Kediri) dan Dedy Prasetyo (Kota Kediri).(nur)
BMKG: 19 Persen Wilayah Indonesia Telah Masuki Musim Kemarau

BMKG: 19 Persen Wilayah Indonesia Telah Masuki Musim Kemarau

Jakarta - Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebut luasnya kawasan Indonesia dari Sabang sampai Merauke membuat waktu dimulainya musim hujan atau kemarau tidak serentak. Menurut Kepala BMKG Andi Eka Sakya, sampai minggu terakhir April 2016 ini, sedikitnya 19 persen wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau.
BMKG: 19 Persen Wilayah Indonesia Telah Masuki Musim Kemarau
"Kebetulan Indonesia mempunya variasi musim yang sangat banyak, jadi tidak semua persis seperti Jakarta, yang lain sebagian sebetulnya telah masuk musim kemarau. Lebih dari 19 persen sudah masuk musim kemarau. Terutama daerah Sumut, Riau, dan segala macam," tutur Andi di sela rakernas BMKG di Hotel Mercure Ancol, Jakarta Utara, Selasa (26/4/2016).

Baca juga: BMKG: 2-3 Hari ke Depan Intensitas Hujan Mulai Turun
http://news.detik.com/berita/3193929/bmkg-2-3-hari-ke-depan-intensitas-hujan-mulai-turun

"Pancaroba itu anginnya kencang, petirnya banyak, jadi kadang-kadang memang hujan deras," imbuhnya.

Terkait banjir yang terjadi di Jakarta, Andi mengatakan, hal tersebut tak melulu karena tingginya intensitas hujan. Bisa juga disebabkan oleh penyerapan air yang tidak maksimal oleh tanah.

"Banjir itu kan prosesnya tidak hanya sekedar hujan, tetapi juga kalau kita lihat itu permukaan tanah itu penyerapannya telah berkurang menjadi 20 persen," ujar Andi.

"Sehingga 80 persen dari hujan itu semuanya mengalir ke bawah saja. Kalau rintangannya banyak, itu bisa jadi awal genangan," jelasnya. 
(rna/aws)